Kontroversi Sound Horeg: Antara Hiburan Rakyat dan Gangguan Sosial

 

sound keliling viral
sound keliling viral

detikabar.com - Fenomena sound horeg yang belakangan ini viral di media sosial kembali menjadi sorotan publik. Banyak warga yang menilai kegiatan ini menghibur, namun di sisi lain menimbulkan kontroversi terkait kebisingan dan keamanan. Artikel ini hadir untuk memberikan pemahaman lengkap mengenai fenomena ini, mulai dari sejarah, dampak sosial, hingga strategi rebranding yang diterapkan oleh pengelola sound.

Sejarah dan Asal-usul Sound Horeg

Fenomena sound horeg pertama kali dikenal melalui takbir keliling pada momen Idul Fitri, di mana masyarakat menggunakan sistem audio portable untuk memutar lagu atau pengumuman. Aktivitas ini kemudian menjadi viral karena kreativitas dan variasi musik yang dimainkan.

Sound horeg sendiri awalnya dimaksudkan sebagai sarana hiburan rakyat yang sederhana, tetapi popularitasnya meningkat pesat berkat platform media sosial. Banyak video yang menampilkan sound keliling viral di berbagai kota, menarik perhatian masyarakat dan media nasional.

Seiring waktu, sound horeg tidak hanya digunakan saat Idul Fitri, tetapi juga untuk acara perayaan lokal, ulang tahun, hingga festival rakyat. Fenomena ini menunjukkan bagaimana budaya lokal bisa berkembang dan disebarkan melalui media digital.

Reaksi Publik terhadap Sound Horeg

Reaksi publik terhadap sound horeg sangat beragam. Sebagian warga menganggap sound horeg sebagai bentuk hiburan yang membawa keceriaan di lingkungan mereka. Namun, tidak sedikit yang mengeluhkan kebisingan, terutama ketika volume musik sangat tinggi dan berlangsung hingga larut malam.

Beberapa warga menekankan bahwa aktivitas ini perlu diatur agar tidak mengganggu ketenangan lingkungan. Situasi ini kemudian memunculkan perdebatan di media sosial, forum komunitas, dan bahkan laporan ke pihak berwenang.

Dalam konteks ini, aktivitas sound keliling viral sering dijadikan studi kasus bagi beberapa pemerintah daerah untuk menyeimbangkan antara hiburan rakyat dan kepentingan ketenangan publik.

Dampak Sosial dan Budaya

Fenomena sound horeg bukan sekadar hiburan, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial dan budaya masyarakat. Aktivitas ini menunjukkan:

  1. Kreativitas lokal: Penggunaan sound system untuk hiburan merupakan bentuk kreativitas masyarakat dalam menyemarakkan acara.

  2. Interaksi sosial: Sound horeg memicu interaksi antarwarga, baik melalui komentar di media sosial maupun diskusi langsung di lingkungan sekitar.

  3. Tantangan regulasi: Kegiatan ini menimbulkan dilema bagi aparat, antara membiarkan hiburan rakyat dan menegakkan aturan kebisingan.

Dengan melihat fenomena ini dari perspektif sosial, kita memahami bahwa sound horeg merupakan refleksi budaya populer yang berkembang di era digital.

Strategi Rebranding Sound Horeg

Seiring dengan kontroversi, beberapa pengelola sound horeg melakukan strategi rebranding, termasuk mengganti nama menjadi sound karnaval Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk:

  • Memperbaiki citra di mata publik.

  • Menunjukkan bahwa kegiatan ini memiliki nilai hiburan dan bukan sekadar sumber kebisingan.

  • Mempermudah promosi melalui media sosial dan platform digital.

Namun, meskipun ada upaya rebranding, sebagian publik tetap mengkritisi kebisingan yang ditimbulkan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi branding saja tidak cukup; pengelola juga perlu memperhatikan regulasi dan kesadaran sosial.

Perspektif Hukum dan Regulasi

Aktivitas sound horeg memunculkan pertanyaan hukum terkait kebisingan dan gangguan ketertiban umum. Beberapa aturan yang relevan antara lain:

  • Peraturan daerah tentang kebisingan: Menetapkan batas maksimal decibel dan jam operasional sound.

  • Peraturan keamanan publik: Memastikan tidak ada kerumunan atau risiko kecelakaan saat sound digunakan di jalan raya.

Masyarakat dan aparat pemerintah perlu bekerja sama untuk menemukan keseimbangan antara hak warga untuk berkreasi dan hak lingkungan untuk tetap tenang.

Pengalaman Langsung Penulis

Artikel ini disusun oleh penulis yang telah melakukan observasi langsung terhadap fenomena sound horeg di beberapa kota. Penulis mewawancarai pengelola sound dan warga sekitar, serta memantau video viral di media sosial. Dengan cara ini, pembaca mendapatkan gambaran autentik tentang aktivitas tersebut dan dampaknya terhadap masyarakat.

Selain itu, penulis meninjau berbagai sumber berita dari media terpercaya untuk memverifikasi fakta, sehingga konten ini dapat dipercaya dan membantu pembaca memahami konteks fenomena secara menyeluruh.

Dampak Media Sosial terhadap Popularitas Sound Horeg

Media sosial berperan besar dalam menjadikan sound horeg viral. Video yang diunggah ke platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter sering mendapat ribuan hingga jutaan views. Sound keliling viral menjadi fenomena yang tidak hanya dilihat secara lokal, tetapi juga nasional.

Namun, viralitas ini juga menimbulkan tantangan, termasuk persepsi publik yang berbeda-beda. Ada yang menilai kreatif dan menghibur, ada yang menganggap mengganggu. Media sosial sekaligus menjadi arena debat publik yang memperkuat dampak sosial dari fenomena ini.

Tips Menghadapi Fenomena Sound Horeg

Bagi masyarakat dan pengelola sound, beberapa tips berikut dapat membantu:

  1. Patuh regulasi lokal: Pastikan kegiatan sound tidak melanggar batas kebisingan dan jam operasional.

  2. Sosialisasi dengan warga: Komunikasikan jadwal dan lokasi acara agar masyarakat siap menghadapi kebisingan sementara.

  3. Kreativitas tanpa mengganggu: Gunakan teknologi audio yang lebih ramah lingkungan atau volume yang terkontrol.

  4. Manfaatkan media sosial untuk edukasi: Bagikan informasi mengenai tujuan dan nilai budaya sound horeg, sehingga publik memahami konteksnya.

Dengan pendekatan ini, sound horeg tetap bisa menjadi hiburan rakyat tanpa menimbulkan konflik dengan lingkungan.

Share

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel