Kontroversi Suara Horeg: Antara Fenomena Budaya Populer dan Dampak Sosial

 

respon pemerintah horeg
respon pemerintah horeg

Fenomena suara horeg semakin sering menjadi bahan perbincangan publik. Dari media sosial hingga forum komunitas, tren ini menimbulkan pro dan kontra yang tajam. Sebagian pihak melihatnya sebagai bentuk kreativitas anak muda dalam mengolah musik jalanan, sementara yang lain menilai bahwa suara ekstrem ini bisa membawa dampak negatif terhadap kesehatan pendengaran dan ketertiban umum.

Jika dilihat dari sisi popularitas, suara horeg telah menembus berbagai lapisan masyarakat. Bahkan, dalam beberapa acara karnaval dan festival musik, elemen ini sengaja dimasukkan untuk menarik perhatian penonton. Namun, semakin besarnya fenomena ini justru menimbulkan pertanyaan: apakah masyarakat hanya sekadar mengikuti tren, atau sudah memahami risiko di baliknya?

Melihat arah diskusi publik yang terus berkembang, isu ini tidak bisa lagi dianggap sepele. Sebab, ia menyentuh aspek budaya, kesehatan, hingga regulasi. Perdebatan yang muncul pun menunjukkan adanya kebutuhan untuk memahami suara horeg secara lebih dalam, bukan hanya sebagai tren sesaat, melainkan juga sebagai isu sosial yang kompleks.

Sejarah Munculnya Suara Horeg dalam Budaya Populer

Suara horeg sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Bentuk awalnya bisa ditelusuri pada tren remix bass dan modifikasi sound system di komunitas jalanan pada awal 2010-an. Seiring perkembangan teknologi audio, banyak anak muda mulai bereksperimen dengan efek suara yang unik, menghasilkan dentuman ekstrem yang kemudian dikenal sebagai “horeg”.

Pada mulanya, hal ini hanya dianggap hiburan alternatif. Namun, penyebaran video pendek di platform seperti TikTok dan Instagram membuat fenomena ini meluas dengan cepat. Dari situ, suara horeg menjadi semacam identitas bagi komunitas tertentu, mirip dengan subkultur musik elektronik di luar negeri.

Kontroversi Dampak Kesehatan dari Suara Horeg

Di balik popularitasnya, ada kekhawatiran serius mengenai dampak kesehatan. Menurut sejumlah pakar audiologi, paparan suara dengan intensitas di atas 100 dB secara berulang bisa menyebabkan kerusakan permanen pada sel rambut di telinga dalam.

Fenomena ini menjadi perhatian karena sebagian sound horeg yang diputar di ruang terbuka bisa mencapai tingkat kebisingan serupa dengan mesin jet lepas landas. Dampaknya tidak hanya pada pendengar langsung, tetapi juga pada masyarakat sekitar yang tidak menghendaki paparan suara ekstrem tersebut.

Meski begitu, belum ada penelitian akademis yang secara khusus membahas “suara horeg” sebagai objek riset. Inilah salah satu kelemahan dalam memahami fenomena ini: minimnya data ilmiah membuat perdebatan publik berjalan dalam ruang spekulasi, bukan fakta.

Aspek Sosial: Antara Hiburan dan Gangguan

Di satu sisi, suara horeg menjadi sarana hiburan murah meriah. Generasi muda menggunakannya sebagai bentuk ekspresi diri, menciptakan suasana meriah di berbagai kesempatan. Namun, bagi sebagian masyarakat lain, hal ini justru dianggap sebagai gangguan serius.

Kasus perselisihan antarwarga akibat pesta musik dengan suara horeg sudah beberapa kali muncul di pemberitaan lokal. Keluhan utama berkisar pada terganggunya kenyamanan, terutama saat suara ekstrem diputar hingga larut malam. Dari sini, terlihat bahwa suara horeg bukan hanya soal tren budaya, tetapi juga menyentuh relasi sosial dan toleransi antarwarga.

Respon Pemerintah terhadap Fenomena Suara Horeg

Tidak sedikit pihak yang mendorong adanya regulasi terkait fenomena ini. Beberapa pemerintah daerah bahkan mulai merespons keluhan masyarakat dengan menertibkan penggunaan sound system berlebihan. Sejumlah surat edaran tentang batasan volume suara di ruang publik telah diterbitkan.

Menariknya, perdebatan ini juga sampai ke ranah opini publik. Beberapa warganet mengaitkan diskusi ini dengan respon pemerintah horeg, yang dianggap masih belum tegas dalam menindak pelanggaran penggunaan sound system ekstrem. Hal ini menimbulkan kesan bahwa aturan yang ada belum mampu menyeimbangkan antara kebebasan berekspresi dan hak masyarakat untuk hidup nyaman.

Perspektif Akademisi dan Ahli Sosial

Sejumlah akademisi menilai bahwa fenomena suara horeg mencerminkan dinamika budaya populer di era digital. Dr. Ahmad Fadli, sosiolog dari sebuah universitas negeri, menjelaskan bahwa tren semacam ini biasanya lahir dari “kebutuhan kolektif akan identitas” di kalangan anak muda.

Menurutnya, suara horeg bisa dipahami sebagai bentuk resistensi terhadap norma formal yang kaku. Dalam konteks ini, horeg bukan sekadar musik, melainkan simbol kebebasan dan ekspresi nonkonvensional. Namun, ia juga menekankan perlunya batasan agar ekspresi tersebut tidak merugikan pihak lain.

Peran Media dalam Membentuk Persepsi Publik

Media arus utama turut andil memperbesar fenomena ini. Pemberitaan tentang bentrokan warga akibat suara horeg sering kali memancing perdebatan lebih luas di media sosial. Sayangnya, sebagian besar berita hanya menyoroti sisi konflik, bukan akar budaya yang melatarbelakanginya.

Hal ini berimplikasi pada persepsi publik: suara horeg cenderung dilihat sebagai “gangguan” ketimbang “fenomena budaya”. Padahal, pemahaman yang lebih seimbang akan membantu masyarakat mencari solusi tanpa mengorbankan kreativitas anak muda.

Menimbang Regulasi yang Lebih Tepat

Regulasi soal kebisingan sebenarnya sudah ada dalam undang-undang lingkungan hidup. Namun, implementasi di lapangan sering kali lemah. Pemerintah daerah perlu lebih proaktif dengan melibatkan komunitas kreatif untuk mencari jalan tengah.

Misalnya, menyediakan ruang khusus bagi penikmat musik horeg agar tidak mengganggu pemukiman. Alternatif lain adalah mengedukasi komunitas terkait batas aman intensitas suara. Pendekatan semacam ini lebih inklusif ketimbang sekadar melarang.

Tren Global: Apakah Horeg Fenomena Lokal atau Bagian dari Arus Dunia?

Jika dilihat secara global, fenomena musik ekstrem berbasis dentuman bass tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Eropa, misalnya, ada tren “gabber” dan “hardstyle” yang memiliki karakteristik mirip. Artinya, horeg bukanlah anomali, melainkan bagian dari pola global di mana generasi muda menciptakan subkultur unik.

Namun, perbedaan utama ada pada regulasi dan edukasi publik. Di banyak negara, event musik dengan suara ekstrem diatur ketat, baik dari sisi volume maupun lokasi. Hal ini bisa menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah dan komunitas di Indonesia dalam menata fenomena horeg.

Share

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel