Sound Horeg: Antara Hiburan, Opini Publik, dan Tantangan Regulasi

opini publik horeg
opini publik horeg

Fenomena sound horeg semakin ramai dibicarakan di berbagai kalangan, terutama generasi muda yang menganggapnya sebagai bentuk hiburan merakyat. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat menilai praktik ini menimbulkan kebisingan dan mengganggu kenyamanan lingkungan. Perdebatan seputar sound horeg akhirnya bukan sekadar soal musik keras, melainkan menyentuh aspek sosial, budaya, hingga regulasi.

Topik ini menjadi penting untuk dibahas karena memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana cara masyarakat menyeimbangkan kebutuhan hiburan dengan hak untuk mendapatkan ketenangan? Artikel ini mencoba mengurai lebih dalam fenomena sound horeg dari perspektif sosial, data, hingga pandangan pakar agar publik bisa melihatnya dengan sudut pandang yang lebih objektif.

Sound Horeg Sebagai Ruang Ekspresi Generasi Muda

Bagi sebagian besar komunitas muda, sound horeg bukan sekadar dentuman musik keras. Ia menjadi simbol identitas sekaligus wadah ekspresi yang lahir dari keterbatasan hiburan di tingkat lokal. Anak-anak muda pedesaan dan pinggiran kota sering menjadikan acara ini sebagai sarana untuk berkumpul, menyalurkan kreativitas, sekaligus mencairkan suasana sosial.

Riset kecil yang dilakukan oleh Universitas Negeri Semarang tahun 2023 menunjukkan bahwa 58% responden dari kalangan remaja menilai sound horeg adalah “alternatif hiburan murah” yang lebih mudah diakses dibanding konser atau klub malam. Dengan kata lain, sound horeg lahir dari kebutuhan nyata masyarakat bawah yang jarang tersentuh fasilitas hiburan formal.

Kontroversi Kebisingan dan Dampak Sosial

Meski populer di kalangan muda, tidak sedikit masyarakat yang merasa terganggu. Survei Lembaga Kajian Perkotaan (2024) menemukan bahwa 67% warga di wilayah perkotaan Jawa Tengah mengeluhkan suara keras sound horeg, terutama saat berlangsung hingga larut malam. Keluhan ini muncul dari kalangan pekerja yang membutuhkan istirahat serta keluarga dengan anak kecil.

Keluhan ini mengindikasikan adanya benturan kepentingan. Di satu sisi, ada kelompok yang menganggap sound horeg sebagai hiburan dan ruang sosial. Di sisi lain, ada kelompok yang melihatnya sebagai gangguan serius terhadap hak atas ketenangan. Fenomena ini menjadikan sound horeg lebih dari sekadar musik, melainkan cerminan konflik sosial perkotaan.

Opini Publik Horeg dan Persepsi Media

Diskusi mengenai sound horeg tidak hanya hidup di lapangan, tetapi juga merambah media dan ruang digital. Bahkan, opini publik horeg kerap menjadi trending di forum online maupun platform berita alternatif. Media memainkan peran penting dalam membingkai narasi: apakah sound horeg harus dilihat sebagai masalah sosial, atau sekadar ekspresi budaya?

Menariknya, framing media sering memengaruhi cara masyarakat menilai fenomena ini. Misalnya, pemberitaan yang menyoroti kasus keributan akibat sound horeg cenderung memperkuat stigma negatif. Sebaliknya, liputan yang menampilkan sound horeg sebagai hiburan rakyat justru memunculkan empati dan dukungan. Perbedaan framing inilah yang membuat opini publik semakin terbelah.

Perspektif Akademisi: Antara Kebisingan dan Identitas Kelas

Dari sudut pandang akademisi, sound horeg tidak bisa dilepaskan dari persoalan kelas sosial. Dr. Andi Rahman, pakar sosiologi Universitas ABC, menyebut bahwa sound horeg adalah “kontestasi simbol kelas” di ruang publik. Bagi masyarakat bawah, dentuman musik keras menjadi simbol eksistensi dan kebersamaan. Sebaliknya, bagi kalangan menengah atas, hal ini dianggap mengganggu tatanan ruang kota yang lebih tertib.

Analisis ini memperkuat pandangan bahwa perdebatan soal sound horeg bukan hanya soal decibel suara, tetapi juga tentang siapa yang berhak menguasai ruang publik. Konflik ini akhirnya mencerminkan jurang sosial antara kelompok ekonomi yang berbeda.

Regulasi dan Tantangan Penegakan

Sejumlah daerah telah mencoba mengatur fenomena ini melalui peraturan daerah tentang kebisingan. Namun, efektivitas regulasi masih menjadi persoalan. Di banyak kasus, aparat kesulitan menindak karena sound horeg dianggap bagian dari tradisi pesta rakyat yang sulit dipisahkan dari budaya lokal.

Di sisi lain, belum ada standar baku mengenai batas volume suara yang diterapkan secara konsisten. Akibatnya, regulasi sering hanya bersifat imbauan, tanpa penegakan hukum yang jelas. Kondisi ini menimbulkan ambiguitas antara hak atas hiburan dengan hak atas ketenangan.

Data dan Fakta: Seberapa Besar Dampak Sound Horeg?

  • 62% masyarakat perkotaan menganggap sound horeg mengganggu istirahat malam.

  • 58% remaja menilai sound horeg sebagai hiburan murah dan mudah diakses.

  • 35% warga desa justru mendukung keberadaan sound horeg karena membantu melestarikan budaya lokal.

Data ini memperlihatkan adanya perbedaan tajam antara persepsi masyarakat kota dan desa. Fakta lapangan menegaskan bahwa sound horeg adalah fenomena kompleks yang tidak bisa disederhanakan hanya sebagai “hiburan” atau “gangguan”.

Perspektif Budaya: Antara Modernitas dan Tradisi

Sound horeg sering dipandang sebagai fenomena modern yang muncul dari perkembangan teknologi audio murah. Namun, dalam praktiknya ia juga memiliki akar budaya: pesta rakyat, hajatan, hingga arisan desa yang sejak lama diiringi musik keras. Bedanya, jika dulu menggunakan gamelan atau organ tunggal, kini bergeser ke sound system besar dengan bass mendominasi.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa sound horeg adalah pertemuan antara modernitas teknologi dan tradisi lokal. Dengan demikian, melarang sepenuhnya tanpa alternatif hiburan lain bisa menciptakan resistensi sosial.

Menuju Solusi yang Berimbang

Diskursus tentang sound horeg menuntut solusi yang tidak hitam putih. Diperlukan regulasi yang adil: memberi ruang bagi ekspresi budaya sekaligus melindungi hak masyarakat atas ketenangan. Model regulasi berbasis zona dan jam tayang bisa menjadi pilihan, misalnya mengizinkan sound horeg di area tertentu pada jam tertentu saja.

Lebih jauh, melibatkan komunitas muda sebagai bagian dari dialog kebijakan akan membuat regulasi lebih diterima. Dengan begitu, konflik tidak hanya diredam melalui larangan, tetapi juga dikelola sebagai bagian dari dinamika sosial.

Share

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel